Hari Jumat + Lebaran = Hujan Angin.
Dulu. Dulu sekali. Entah usiaku baru berapa. Menjelang sore terakhir bulan ramadan, hujan mengguyur begitu deras. Angin berembus kencang dari barat ke timur.
Di emperan rumah, kami semua sudah sangat tegang. Lutut menggigil. Bukan karena kedinginan tetapi ketakutan.
Sudah sejak tadi aku tidak berhenti komat-kamit mengucap doa saat ada angin kencang. Sedang dari emper belakang rumah, suara adzan Kakung Mburi juga tiada henti.
Ibu, Bulek, Yayi, dan anak-anak perempuan lain sudah dleweran. Air yang keluar dari sudut mata itu bercampur baur dengan air hujan yang dipermainkan angin.
Beberapa saat kemudian, tanpa komando, semuanya melompat ke halaman. Tanpa payung. Tanpa penutup kepala. Tangis pecah bersama dengan suara dentuman.
"Empyake kocar-kacir," seseorang dari kami bergumam. Yang lainnya hanya bisa tertegun.
Ibu menutup kepala adik dengan selendang basah. Semua basah. Kasur-kasur di dalam rumah pun basah.
Esoknya kami merayakan lebaran dengan suasana yang hangat dan sangat terang, sebab atap rumah kami tak ada gentengnya.
***
Oudhi, 20 Maret 2026
