Kartini: Merobek Diam
Dalam bilik pingitan,
jendelaku hanyalah segaris cahaya.
Dari sana aku melihat:
retakan besar dunia
yang tak pernah diakui
oleh siapa-siapa.
Aku memungut keping-keping tangis
yang pecah dari mata wanita.
Aku menumpuk beban
dari punggung-punggung wanita
yang membungkuk di hadapan pria.
Aku menyimpan rintih
yang tak pernah didengar oleh telinga.
Dan rintih itu tumbuh—
menjadi gema
yang menggaung dalam dadaku.
Aku tidak lagi tahu
mana suaraku,
mana jerit yang diwariskan
dari ibu kepada anak gadisnya,
dari luka yang diam
kepada luka yang dipendam.
Aku ingin bertanya—
tapi pertanyaanku selalu dianggap durhaka.
Aku ingin berdiri—
tetapi itu dianggap pamali.
Mereka berkata: ini kodrat.
Aku melihat: ini hegemoni
yang dipahat rapi
lalu disembah sebagai kebenaran.
Namun hari ini,
aku akan berdiri—
meski dunia menyebutnya pamali.
aku akan bicara—
meski suaraku dianggap durhaka.
aku akan merobek diam
Kata-kataku akan hidup
akan melawan.
Oudhi, 190426
